Ketika wawancara sering terbata bata dengan susah payah menata kata kebohongan melawan sifat fitrah manusia untuk condong kepada kebenaran. Sifat fitrah inilah manusia sedang berbohong menunjukkan perilaku berbeda akan tampak cepat berkeringat, gelisah, dan tingak tinguk merubah arah pandangannya dan kelainan sifat lainnya.
Dampak kebohongan tidak main-main, rakyat resah, bingung bahkan sangat banyak stigma dengan cara apapun ucapan Presiden pasti bohong. Kebohongan dapat merusak masyarakat bahkan menumbangkan dan memporak porandakan negara.
Ketika Buya Hamka menanyai putranya Irfan Hamka apakah sudah shalat isya. Irfan yang sedang asyik baca novel buru buru menjawab sudah. Buya tahu Irfan bohong lantas menasehati kepada putranya bahwa “jikalau engkau hendak berbohong, maka haruslah pandai terlebih dahulu. Karena ketika seseorang berbohong, ia harus memiliki perkataan yang lancar, pendirian yang kuat, serta janganlah jadi pelupa”.
Kelemahan pembohong adalah jadi pelupa. Orang yang jujur dan benar tidak akan lupa karena kebenaran itu senantiasa terekam dalam otaknya. Sebaliknya menahan kata kata bohong itu sangat berat karena sering keterjang sifat sering lupa.










