Banyak tumpahan “kemarahan” dan sumpah serapah soal wajah Maluku Utara jika disbanding dengan provinsi lain yang disuarakan pemantik. Mereka sepakat, Maluku Utara hari ini tak mengalami kemajuan berarti.
Pemantik M. Rahmi Husein, yang diberikan kesempatan pertama menyatakan bahwa kegagalan Maluku Utara hari ini adalah buah dari pertarungan elit politik yang tak pernah selesai. Semacam dosa warisan. “Maluku Utara ini kena azab,” Imbuh Rahmi
Menurutnya, pertarungan politik elit dari masa lampau ketika Provinsi ini mekar sampai hari ini belum selesai. Rahmi menawarkan perlunya membangun konsensus baru yang melibatkan semua elemen masyarakat terutama para pejuang provinsi yang dulu memperjuangkan Provinsi Maluku Utara untuk duduk bersama dan merumuskan peta jalan Maluku Utara masa depan.
Ia juga memrovokasi agar pemimpin Maluku Utara kedepan adalah pemimpin dari kalangan orang muda yang memiliki visioner mumpuni. Memiliki gagasan besar tentang Maluku Utara.

Sementara itu, Sultan Tidore, Husain Syah memberikan catatan soal perlunya keberanian para elit agar tidak selalu bergantung ke pusat. Itu artinya, elit local terutama kepala daerah harus memiliki daya tawar yang kuat.
“Harus berani melakukan “perlawanan” kepada pusat. agar pusat tidak selalu mendikte daerah,” ungkap Sultan yang selama ini begitu vocal menyuarakan kepentingan daerah. Sultan menyontohkan keberanian Gubernur Papua yang “melawan” kebijakan pusat.




