Puasa Setiap Hari Sepanjang Hidup, Ini Kisah Nabi Idris AS

oleh -19 Dilihat

Puasa dahr dipahami sebagai amalan berpuasa setiap hari tanpa jeda, kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, yakni dua hari raya dan hari-hari tasyrik. Meskipun demikian, dalam perspektif fikih, puasa dahr tidak dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam secara umum.

Hal tersebut dijelaskan ulama kontemporer Mesir Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam terjemahan Danis Wijaksana, yang menyebut puasa dahr dimakruhkan karena dapat memberatkan jasmani dan mengabaikan keseimbangan hak tubuh.

Abdullah ibn ‘Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya, tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya.”

Nabi Muhammad SAW juga menasihati Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash agar tidak memaksakan diri dalam ibadah puasa. Beliau menegaskan bahwa tubuh, mata, keluarga, dan tamu memiliki hak yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan puasa yang lebih seimbang, seperti puasa tiga hari setiap bulan atau puasa Nabi Dawud AS, yakni berpuasa selang-seling antara satu hari puasa dan satu hari berbuka.

Dengan demikian, kisah puasa dahr Nabi Idris AS perlu dipahami sebagai gambaran ketekunan dan kedekatan beliau kepada Allah SWT, bukan sebagai anjuran syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Pemahaman ini penting agar keteladanan Nabi Idris AS tetap diambil dari semangat ibadah dan keikhlasan, tanpa mengabaikan prinsip keseimbangan yang diajarkan dalam Islam.

No More Posts Available.

No more pages to load.