Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis
“Hai orang-orang yang beriman. Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS.al-Baqarah:183)
Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya, semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan ridho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya.
Ayat puasa sebagaimana saya kutip diatas, dimulai dengan firman Allah: ”Hai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan:” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.”
Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.
Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, Allah SWT memberi kita kesempatan selama bulan Ramadhan untuk melatih diri. Menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, melakukan hubungan suami-istri disiang hari, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, fitnah dan tipu daya, dengki dan khianat dan berbagai perbuatan jahat lainnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya puasa adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang menyerang atau mencaci, katakanlah “sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.”




