Pulanglah ke Ambon

oleh -171 views

Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan

Di bawah langit timur yang biru, Ambon berdiri seperti sebuah syair yang ditulis dengan air mata dan harapan. Dulu, ia adalah jantung rempah dunia—tempat aroma pala dan cengkeh mengundang armada Eropa yang membawa perang dan perpecahan. Dari Portugis ke Belanda, dari Jepang hingga bangsa sendiri—Ambon belajar menjadi kuat dengan cara yang tak semua kota mampu: bertahan tanpa kehilangan jati diri.

Lalu datang masa kelam—tragedi yang membelah tubuh kota, Sembilan puluh sembilan memisahkan saudara, memadamkan tawa anak-anak. Api membakar bukan hanya rumah, tapi juga hati dan rasa percaya. Namun Ambon tak tinggal dalam reruntuhan. Ia merajut luka menjadi pelajaran, merangkul perbedaan dengan lengan yang dulu dipatahkan, dan berdiri lagi, lebih kokoh, lebih dewasa.

Baca Juga  Menghidupkan Pahlawan

Budaya di Ambon bukan hiasan panggung, ia darah yang mengalir dalam tiap gerakan. Di sana, nyanyian bukan sekedar iringan suara yang harmoni, melainkan cara mencintai tanah, cara menghormati leluhur, dan cara menjadi manusia yang utuh.

Lelaki Ambon lahir dari batu dan laut—keras ketika harus, tenang ketika damai. Mereka tak hanya pekerja dan prajurit, tapi penjaga martabat.

Dan perempuan Ambon—mereka bukan bunga di pinggir jalan. Mereka adalah akar dan matahari. Dalam senyum mereka, ada doa. Dalam langkah mereka, ada dunia yang dibentuk oleh kelembutan dan kekuatan yang berjalan beriringan.

No More Posts Available.

No more pages to load.