Pulau Kucing Fukweu: Viralitas Tanpa Visi, Wisata yang Terancam Gagal

oleh -15 Dilihat

Masalah paling mendasar adalah ketiadaan sistem akuntabilitas. Tidak ada kejelasan dana masuk dan keluar, tidak ada laporan kepada publik, dan tidak ada skema pelibatan masyarakat dalam pengelolaan. Akibatnya, peluang wisata malah menjadi panggung bagi segelintir orang yang mencari keuntungan pribadi, bukan untuk kemaslahatan bersama.

Jangan Jadi “One Hit Wonder”

Pulau Kucing Fukweu menjadi contoh bagaimana tren viral bisa menyesatkan jika tidak ditopang dengan kesiapan struktural. Wisata yang dibangun atas dasar momentum sesaat tanpa rencana jangka panjang hanya akan melahirkan kegagalan. Banyak tempat di Indonesia yang mengalami hal serupa—ramai sesaat, lalu rusak selamanya.

Padahal, pulau ini menyimpan potensi luar biasa jika dikelola dengan pendekatan konservasi, edukasi, dan partisipasi masyarakat. Dengan tata kelola yang transparan dan melibatkan warga, Pulau Kucing bisa menjadi simbol wisata berkelanjutan yang mengangkat nama Fukweu di peta nasional.

Baca Juga  Komisi I DPRD Desak Polda Maluku Ungkap Pelaku Konflik Antarkelompok

Sayangnya, pemerintah daerah terlihat lamban merespons. Fokus mereka hanya pada satu-dua lokasi wisata utama, sementara tempat lain seperti Fukweu luput dari perhatian. Sikap pasif ini bukan hanya menghambat perkembangan destinasi, tetapi juga menumpulkan semangat dan kreativitas warga desa yang seharusnya bisa tumbuh bersama potensi wisata lokal.

No More Posts Available.

No more pages to load.