Resensi Buku “Kupu-Kupu Boven Digoel”

oleh -186 views

Karya histografi ini tatkala dibaca bak sebuah novel sejarah, di mana penulisnya memaparkan tidak terlampau rigit layaknya sebuah karya ilmiah. Melainkan dinarasikan secara bersahaja, sehingga mampu dipahami secara mudah oleh khalayak pembaca.

Terdapat 12 pemaparan dalam karya histografi dari pengajar senior dan Direktur Riset di Leiden University Institue for History di Negeri Belanda ini. Ke-12 pemaparan itu yakni : 1) Garis Kolonial di Dalan Keluarga, 2) Para Raja Kulit Putih di Tengah Rimbah, 3) Sebuah Dunia yang Berbeda, 4) Bayang-Bayang Januari, 5) Penculikan Tapan dan Changa, 6) Korban Keserakahan dan Tirani yang Malang, 7) Kebiasaan Lama dan Ide-ide Baru, 8) Ke Mana Sekarang Engkau Ingin Pergi ?, 9) Celana Garis-garis dari Amurang, 10) Anak-Anak Banjarmasin, 11) Paket Terselubung, dan 12) Kupu-Kupu dari Boven Digoel.

Baca Juga  Bedah Buku di UMMU, Wali Kota Ternate Tegaskan Rempah sebagai Identitas dan Kekuatan Peradaban

Karya histografi ini, tentu bukan merupakan suatu karya fiksi, melainkan sebuah karya yang berangkat dari fakta sejarah masa lampau. Tapi bagi para khalayak pembaca, tentu memiliki catatan kritis. Hal ini berkaitan dengan penulisnya yang berkewarganegaraan Belanda. Sehingga narasi histografinya dengan cara pandang Belanda.

Hal ini yang berbeda dengan deskripsi sejarah Nusantara, yang ditorehkan oleh Sartono Kartodirdjo (1921-2007). Ia dikenal karena upayanya untuk menulis sejarah Indonesia dengan cara pandang Indonesia sendiri, bukan hanya dari perspektif Eropa (Belanda).

No More Posts Available.

No more pages to load.