Harmoni keindahan musik terdengar ketika dirigen mampu mengarahkan para pemusik memainkan nada dan tempo sesuai partitur. Bayangkan pertunjukan simfoni yang sumbang. Harus jeda sesaat karena dirigen mengganti pemain saat komposisi musik dimainkan. Negara perlu partitur orkestrasi yang jelas, dirigen yang kompeten, pemain yang berkelas, agar simfoni bisa tuntas. Dirigen yang gemar mengganti pemain, indikasi sering salah pilih dan terombang-ambing.
Memang ada dimensi politik dalam koalisi besar politik, resafel sering menjadi alat kompromi, untuk menyeimbangkan kepentingan atau meredam gesekan. Tapi jika terlalu sering, resafel berubah menjadi tujuan, bukan sekadar cara. Politik menjadi simfoni yang sumbang, karena sibuk mencari sensasi untuk menarik atensi. Resafel menjadi atraksi politik level infotainment. Bahan kasak-kusuk siapa akan diganti siapa akan diangkat. Tanpa ada penjelasan mengapa seseorang diangkat atau diturunkan.
Manajemen pemerintahan bukanlah ajang “pencarian bakat” yang menolerir trial and error. Juga bukan “beauty contest” mengikuti selera presiden sebagai juri. Pemerintahan adalah soal kebijakan publik, soal visi dan misi yang jelas. Kegemaran melakukan resafel mengesankan Presiden tidak tahu apa yang ia inginkan dari para pembantunya. Atau tidak mengenali kompetensi orang yang ia tunjuk.









