Restorasi: Sebuah Ideologi Perjuangan

oleh -48 views
Link Banner

Oleh: A. Malik Ibrahim, Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Maluku Utara

“Demokrasi hendaknya tidak dibiarkan hanya menjadi konser orang-orang kaya dan
berkuasa, karena hal itu berarti kita hanya menukar kekuasaan para tuan tanah,
encomenderos, dan tuan-tuan feudal dengan kediktatoran politik yang licik.” (Anwar
Ibrahim)

Ketika saya menulis tentang restorasi sebagai sebuah ideologi perjuangan ada kader
tua partai keblinger—gagal paham. Bahkan cenderung skeptis; bahwa gagasan restorasi
bukan sebuah ideologi.

Dulu, ketika di kampus kita belajar mata kuliah metodologi penelitian. Di sana
diajarkan metode berpikir seperti skeptik, analitik dan kritik, agar kita mahasiswa
terlatih baik dalam mempertajam pola pikirnya.

Sebagai misal pada aliran skeptisisme yang digagas oleh Pyrrho. Ia menjadi salah satu
metode berpikir yang sah (valid). Isi pokok filsafat skeptisisme adalah tidak percaya
pada pengetahuan (knowledge). “Extreme sceptics deny that the human mind can
attain knowledge” (Paham skeptis yang ekstrim menyangkal bahwa pikiran manusia
mampu mencapai pengetahuan; lihat Encyclopedia Britannica).

Lalu kritisisme (jelasnya kritik) biasanya kita artikan mengoreksi untuk mencari
alternatif yang lebih baik. Tapi skeptisisme tidak perlu positif mencari alternatif. Dia
hanya berfungsi menyangsikan satu ide, gagasan atau konsep yang sudah baku.

Baca Juga  Janji

Apakah gagasan restorasi sebuah ideologi atau cuma sebuah cara menuju perubahan?
Kata ideologi yang saya selipkan dalam uraian itu adalah ideologi perjuangan partai.

Sebagai sebuah orientasi tindakan. Bertujuan untuk mengembalikan, memulihkan,
mencerahkan dan memperbaiki keadaan sebagaimana yang digagaskan oleh Surya
Paloh.

Secara etimologi, makna ideologi yang ditulis oleh Jhon B. Thomson dalam
International Grandbook of the Studies in the Theory of Ideology, sebagaimana
dikutip oleh M. Alfan Alfian (2016: 529-530) ideologi adalah berpikir tentang yang lain,
berpikir tentang orang lain selain dirinya. Untuk menilai suatu pandangan yang bersifat
“ideologis” berarti seseorang harus bersiap mengkritisinya, karena “ideologis” bukan
istilah yang netral.

Thompson mengelompokkan teori-teori ideologi dalam empat kelompok: (1) Ideologi
sebagai sistem kepercayaan, (2) Sebagai proyeksi rasional, (3) Ideologi sebagai relasi
sosial, dan (4) Ideologi sebagai orientasi tindakan.

Dengan demikian, sesungguhnya sejauh mana (skeptisisme) itu menjadi konyol dan
semakin kabur pemahaman kita tentang berbagai pemikiran yang melahirkan gagasan
restorasi.

Baca Juga  Gempa Magnitudo 4.8 Baru Saja Guncang Maluku Tengah

Yasraf Amir Piliang (2013: xiv) dalam pengantar “Jalan Sunyi Restorasi” menulis :
“bahwa politik adalah sebuah jalan untuk mendapatkan kekuasaan tak dapat disangkal.
Tetapi “dunia politik” tidak dapat direduksi sekedar “jalan kekuasaan”. Karena politik
memiliki tujuan-tujuan lebih luas dan mulia seperti “perjuangan gagasan atau ideologi”.

Baginya Indonesia telah kehilangan sifat moralitas, kebajikan, kebangsaan, karakter,
perjuangan dan kepemimpinan serta menawarkan jalan keluar dari kondisi demokrasi
negatif macam itu melalui gagasan restorasi kebangsaan. Restorasi adalah upaya yang
menghidupkan kembali semua yang hilang itu.

Olehnya restorasi di sini dapat dilihat sebagai sebuah “ideologi tandingan” dari gagasan
revolusi dan reformasi, yang dianggap telah gagal menciptakan perubahan pada tingkat
sosial, ekonomi, politik, hokum dan budaya (ibid).

Oleh Surya Paloh, restorasi bukan sekedar tafsiran struktural “retrospektif”,
menemukan kembali spirit dan makna-makna yang hilang, tetapi juga sebuah upaya
pembacaan prospektif yang secara aktif menemukan ide dan gagasan kreatif tentang
aneka kemungkinan dunia kehidupan.

Tersirat dalam pandangan itu, restorasi dengan demikian adalah sintesis antara apa
yang telah dimiliki (nilai fundamental) dan pencarian segala kemungkinan yang
tersedia (nilai baru). Dan pancasila adalah warisan fundamental yang dimiliki, tetapi
gagasan-gagasannya dilupakan dan nilai-nilainya diabaikan.

Baca Juga  Peringati HPSN, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Pemprov Malut Bersih-Bersih Sofifi

Restorasi seperti ditulis Willy Aditya (2013: xviii) dalam INDONESIA DI JALAN
RESTORASI Politik Gagasan Surya Paloh, menguraikan bahwa restorasi harus memiliki
raison d’etre sebagaimana landasan pergerakannya. Restorasi kebangsaan—ini
didorong rasa kecemasan atau kehampaan, anomie, disorder, ketidakberdayaan dan
ketidakpastian.

Mengutip kata Surya Paloh, bahwa dalam ruang politik kita, belum kunjung ditemukan budaya tandingan, pemurnian ideologi ataupun politik gagasan yang memiliki daya ubah.

Simpulannya bagi kader partai NasDem, gerakan restorasi adalah sebuah jalan politik
arus bawah, jalan diseminasi ide, gagasan, ideologi dan makna politik secara tak
mencolok. Kita tidak bekerja melalui politik pencitraan tapi melalui politik tindakan.

Olehnya pada ruang ini kita tetap sepakat bahwa restorasi adalah sebuah ideologi
perjuangan partai, sehingga dari sisi inilah konsensus gagasan menjadi penting sebagai
bagian dari pergumulan ideologis.

DIRGAHAYU PARTAI NASDEM, SATU DEKADE DI JALAN RESTORASI

No More Posts Available.

No more pages to load.