Restorasi: Sebuah Ideologi Perjuangan

oleh -199 views

Oleh: A. Malik Ibrahim, Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Maluku Utara

“Demokrasi hendaknya tidak dibiarkan hanya menjadi konser orang-orang kaya dan
berkuasa, karena hal itu berarti kita hanya menukar kekuasaan para tuan tanah,
encomenderos, dan tuan-tuan feudal dengan kediktatoran politik yang licik.” (Anwar
Ibrahim)

Ketika saya menulis tentang restorasi sebagai sebuah ideologi perjuangan ada kader
tua partai keblinger—gagal paham. Bahkan cenderung skeptis; bahwa gagasan restorasi
bukan sebuah ideologi.

Dulu, ketika di kampus kita belajar mata kuliah metodologi penelitian. Di sana
diajarkan metode berpikir seperti skeptik, analitik dan kritik, agar kita mahasiswa
terlatih baik dalam mempertajam pola pikirnya.

Sebagai misal pada aliran skeptisisme yang digagas oleh Pyrrho. Ia menjadi salah satu
metode berpikir yang sah (valid). Isi pokok filsafat skeptisisme adalah tidak percaya
pada pengetahuan (knowledge). “Extreme sceptics deny that the human mind can
attain knowledge” (Paham skeptis yang ekstrim menyangkal bahwa pikiran manusia
mampu mencapai pengetahuan; lihat Encyclopedia Britannica).

Baca Juga  Umasugi Sosok Birokrat Pemikir Raih Doktor Ilmu Hukum

Lalu kritisisme (jelasnya kritik) biasanya kita artikan mengoreksi untuk mencari
alternatif yang lebih baik. Tapi skeptisisme tidak perlu positif mencari alternatif. Dia
hanya berfungsi menyangsikan satu ide, gagasan atau konsep yang sudah baku.

No More Posts Available.

No more pages to load.