Letkol Teddy: Militerisme dalam Jantung Administrasi Sipil
Penempatan Letkol Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) adalah puncak dari anomali ini. Sebagai seorang perwira aktif yang dipaksakan menduduki jabatan sipil strategis, Teddy membawa kultur komando yang kaku.
Tugas Seskab adalah mengoordinasikan sidang kabinet dan memastikan seluruh menteri bekerja sesuai koridor. Namun, dengan kapasitas yang lebih bersifat “ajudan”, Teddy dinilai lebih sibuk mengatur akses fisik presiden daripada substansi kebijakan. Koordinasi kabinet menjadi transaksional dan bersifat satu arah (top-down), mematikan ruang debat sehat di antara para menteri yang lebih senior dan ahli.
Konsekuensi dari “Gelembung” Loyalitas
Dominasi Hambalang Boys ini menciptakan fenomena “Komunikasi Asal Bapak Senang” (ABS). Mereka seringkali menyajikan narasi publik yang jauh dari realitas pahit di lapangan demi menjaga citra sang mentor. Akibatnya, presiden seringkali mendapat masukan yang tidak akurat, sementara publik disuguhi retorika yang tidak sinkron dengan data ekonomi dan sosial yang ada.
Menanti Retak di Menara Gading
Pemerintahan tidak bisa dikelola seperti mengelola partai atau padepokan pribadi. Mengisi posisi-posisi teknokratis dengan kader yang “nol pengalaman” adalah perjudian besar yang mengorbankan kepentingan rakyat.









