“Kami ingin mengingatkan semua pihak bahwa Belanda telah melakukan hal yang sama dengan Soekarno dan Hatta dengan membuang mereka. Menjadi fakta kalau Belanda dan Indonesia memiliki lebih banyak kesamaan”, sesal mereka.
Disampaikan pula kekecewaan yang mendalam bagaimana Penguasa kolonial —Belanda dan Republik Indonesia— secara strukturil mengeksploitasi Maluku. Kedua penjajah mencuri sejumlah besar sumber daya alam Maluku.
“Meskipun Maluku adalah negara kaya, rakyat di Maluku hidup dalam kemiskinan besar. Pendidikan dan perawatan kesehatan sangat buruk”, tulis Wattilete dan anggota kabinetnya.
Maluku menurut daftar yang mereka miliki, jelas ada di peringkat paling bawah. Karena berjangkitnya virus Covid-19, Gubernur Maluku Murad Ismail telah mengumumkan bahwa tingkat kemiskinan telah meningkat dari 17 persen ke 40 persen.
“Rakyat Maluku sengaja dibuat sebodoh mungkin. Ini juga merupakan strategi yang setiap kekuasaan kolonial, seperti di masa lalu juga digunakan Belanda secara struktural. Republik Indonesia menerapkan instrumen penindasan yang sama”, ungkap mereka.
Dikatakan pula bahwa Bangsa Maluku tidak bodoh dan semakin sadar bahwa penindasan yang berkelanjutan atas tanah dan bangsa Maluku harus berakhir.
“Mereka mengerti bahwa mereka hidup dalam kemiskinan di atas gunung emas. Mereka juga menyadari bahwa mereka harus bangkit untuk mengakhiri ini. Para pemimpin saat ini, dari gubernur sampai bapa raja negeri-negeri adat, sebagai anak-anak turunan Maluku harus mengambil tanggung jawab mereka. Berhenti jadi penonton”, jelas mereka.
Mereka juga menegaskan bahwa Maluku adalah bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak. Keadaan ini, semangat Pattimura, tidak dapat dikendalikan lagi —bukan saja di Negeri Aboru— tetapi di seluruh Maluku. Rakyat akan mengatasi ketakutan untuk membuat suara mereka didengar dan melawan penindasan dan kemiskinan.
“Pattimura-patimura baru akan pasti bangkit dan berjuang untuk memberikan kembali Maluku tanah leluhur mereka dalam tangan pemilik yang sah satu-satunya: Bangsa Maluku”, pungkas keempat tokoh Maluku yang merupakan pimpinan pemeritahan di pengasingan itu. (red)




