Saya tempati salah satu bangsal berkelas Cenderawasih. Ternyata nama bangsal itu saja yang berkelas. Kondisi objektif, jauh api dari panggang. Setiap pagi saya naik kursi roda karatan. Dalam kondisi fasilitas yang begitu buruk itulah, rumah sakit rujukan yang punya sejarah sangat penjang itu bereksistensi dan melayani rakyat jelata di Maluku.
Setelah keluar dan mulai program rawat jalan, saya berusaha mengamati secara objektif. Ternyata ada dua hal yang membuat saya terhenyak dan kagum.
Pertama, segregasi telah berakhir. Semua anak negeri bahu membahu memberi layanan kepada rakyat biasa dari semua pelosok negeri yang datang sebagai pasien.
Kedua, rupanya kita punya pengalaman sebagai masyarakat bersahaja sudah sedemikian menyatu, seperti kasus kursi roda karatan dan reot itu benar-benar dioptimasi fungsinya. Jadi, tidak ada rotan, akar pun berguna.
Yang terus mengusik saya adalah kemanakah para penentu kebijakan publik selama ini? Masa sih gubernur tak punya 20 menit bisa dialokasikan untuk melihat kondisi objektif rumah sakit rujukan ini?
Saya pernah jumpa wakil gubernur di salah satu cafe di seputar Kota Ambon lama. Kalau gubernur setiap hari berpikir keras untuk seluruh Maluku? harusnya wakil gubernur mengunjungi rumah pribadi di Kudamati sekaligus “mangente” rumah sakit itu. Lebih mengherankan lagi dengan wakil-wakil rakyat yang mulia. Bagaimana mungkin tempat rakyat jelata bergulat dengan penyakit dibiarkan keadaannya begitu buruk?









