Penulis: Azwar Sutan Malaka
Siapa yang tak kenal dengan Jalaluddin Rumi. Rumi, begitu orang biasa menyebut-nyebut namanya adalah penyair yang menjadi syair itu sendiri. Ia mengalir bersama syair-syair yang dia tuliskan, dia hidup di antara bait demi bait syairnya walau dia sudah meninggal sejak 5 Jumadil Akhir 672 H yang lalu. Rumi adalah sosok sukses yang kuat secara pribadi, orang yang cerdas dan dinamis, orang yang berhasil menyelami filsafat, berenang menyelami seluk lekuk di dalamnya dan ia berhasil keluar dengan selamat.
Rumi adalah pengarang sukses yang menulis karya sastra, ia hidup dengan karyanya dan ia memiliki karya sastra itu. Ini tentu saja berbeda dengan kritik Robert Escarpit, seorang kritikus sastra dari Prancis yang mengatakan bahwa sekarang ini masyarakat membuat sastra, pada zaman dahulu masyarakat memiliki sastra itu.
Pernyataan Escarpit itu akhirnya menyadarkan kita bahwa sebenarnya memang seperti itulah yang terjadi di dalam dunia sastra kita akhir-akhir ini. Gejala ini dapat dilihat bagaimana setiap minggu koran-koran di daerah dan nasional memanjakan si pembuat karya sastra (cerpen, puisi, cerbung). Media massa menyediakan ruang satu halaman penuh untuk memuat karya-karya yang ditulis oleh para pembuat karya sastra. Entah itu bercerita tentang cinta, tentang kehidupan, tentang kemanusiaan dan lain sebagainya. Bahkan para pembuat karya sastra juga bercerita tentang kemiskinan dan ketidakadilan, walau kadang mereka juga bagian dari orang-orang yang sebenarnya tidak peduli dengan kemiskinan rakyat dan ketidakadilan yang menimpa mereka.




