Sajadah Merah

oleh -42 views
Link Banner

Cerpen Karya: Sofia Faridlatun Ulfa

TERDENGAR suara berisik dari kamar belakang yang letaknya tak jauh dari keberadaan Azizah sekarang. Tanpa ragu-ragu Azizah berdiri menghampiri suara berisik itu yang berhasil membuat Azizah penasaran. Terlihat samar-samar cahaya yang memantul ke tembok dan suara berisik yang tak kunjung berhenti.

“Kenapa lampunya mati, bukankah lampu belakang mati jika jam sudah menunjukkan jam 1 malam dan sekarang masih jam setengah 11.” Gumam Azizah dalam hati.
Betapa kagetnya saat Azizah melihat banyak teman-temannya sedang menertawakan film yang sedang mereka tonton menampilkan film adegan dewasa. Refleks Azizah langsung menutup mata dengan kedua tangannya, tanpa Azizah sadari semua teman-temannya menertawakan Azizah.

“Heh kalian kok nonton film kaya gitu sih!”, gerutu Azizah.
“Sabar to Zah, ini juga ngga sengaja kita nonton film ini soale tadi judulnya pake bahasa Inggris eh taunya film dewasa hahahaha” tawa Dewi disusul tawa teman-teman yang lain.
“Owalah yaudah ganti dong film yang lain bukannya malah ditonton terus kaya gitu!”. Jawab Azizah kesal.

Akhirnya mereka mengganti film My Stupid Boss. Sampai pada pertengahan film Azizah dikagetkan dengan hpnya yang berbunyi, ternyata telepon dari sang pujaan hatinya. Tanpa berfikir panjang Azizah langsung menjawab telefon dengan perasaan senang.

Baca Juga  DPRD Kota Ambon Nilai Pertamina Tertutup Soal BBM Premium

“Halo assalamu’alaikum mas”.
“Wa’alaikumussalam dek, lagi apa toh”.
“Lagi nonton film ini mas bareng temen-temen”.
“Loh tumben nobar di pondok dek”.
“Iya ini mas mumpung lagi libur ngaji, kebetulan tadi ada temen yang pinjem proyektor ke kang santri”.
“Oalahh gitu toh, owh iya dek mas mau bilang sama adek”.
“Mau bilang apa toh mas kok kelihatannya serius amat”.
“Gini dek, 2 minggu lagi mas mau berangkat ke pondok tadi ada informasi dari pengurus pondok”.

Seketika raut wajah Azizah yang tadinya bahagia kini berubah menjadi sedih. Azizah membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran sang pujaan hati.
“Kok cepet banget mas, bukannya jadwal berangkt ke pondok Lirboyo masih 1 bulan lagi” jawab Azizah sedih.
“Iya dek, tapi untuk wilayah Purworejo dan Kebumen ada perubahan jadwal yang harusnya berangkat 1 bulan lagi dimajuin jadi 2 minggu lagi”.

Tanpa Azizah sadari bulir-bulir air mata turun deras di pipi, semua kenangan bersama sang pujaan hati begitu saja terlintas. Dari kenangan 1 tahun yang lalu di sebuah rumah asri saat Azizah silaturahmi ke rumah salah satu teman SMPnya yang bernama Aisyah, disitulah Azizah untuk pertama kalinya bertemu dengan sang pujaan hati. Saat itu Azizah sedang berbincang-bincang dengan Aisyah tanpa Azizah sadari, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan Azizah dari ruangan berbeda. Itu lah Haidar saudara kandung Aisyah yang mana usia Haidar hanya terpaut 1 tahun lebih muda dari Aisyah. Entah sihir apa yang membuat Haidar jatuh hati kepada Azizah untuk pandangan pertama. Dari situlah rasa penasaran Haidar muncul, Haidar selalu mencari informasi mengenai Azizah kepada Aisyah. Hingga pada suatu malam Haidar memutuskan untuk menghubungi Azizah melalui ponselnya.

Baca Juga  Perselingkuhan 2 Pegawai KPK Terbongkar, Begini Ceritanya!

Hari demi hari kedekatan Azizah dan Haidar semakin terasa, Haidar yang terus menerus memberikan perhatian membuat hati Azizah memberikan harapan yang lebih. Namun pada saat itu ada satu kekhawatiran di hati Haidar dimana dia merasa tidak percaya diri untuk melangkah lebih bersama Azizah. Haidar merasa tidak percaya diri karena Haidar hanyalah seorang santri di salah satu Pondok Salaf di Jawa Timur. Sedangkan Azizah merupakan Mahasiswa di salah satu perguruan Islam Negeri di Banyumas. Namun kekhawatiran Haidar begitu saja luntur saat Haidar mendengar penjelasan dari Azizah yang tidak mempermasalah latar belakang dari Haidar. Azizah percaya bahwa Haidar merupakan lelaki yang baik hati, sampai dimana akhirnya mereka memutuskan untuk berkomitmen menjaga perasaan masing-masing walaupun nanti pada akhirnya mereka akan terpaut oleh jarak dan waktu.

Baca Juga  Pengumuman! Jerman Resmi Resesi

“Loh dek kok nangis sih?” Tanya Haidar penasaran.
“Eh iya mas, aku hanya merasa sedih akan berpisah lagi dengan mas” jawab Azizah dengan sedih.
“Tenang saja dek insyaallah ini adalah jalan yang terbaik untuk kita, walaupun kita akan terpisahkan jarak dan waktu namun kita tidak akan terpisahkan oleh doa mas ke adek”.
“Iya mass insyaallah adek akan selalu berdoa untuk masa depan mas dan masa depan adek”.
“Jaga diri adek baik-baik jangan pernah meninggalkan kewajiban kita kepada sang khalik, selalu menjadi Azizah ku jangan berubah yaa” sendu Haidar.
“Insyaallah mass. Jaga diri mas baik-baik disana, semoga tahun depan kita masih bisa bertemu dan bertukar cerita huhu”.
“Iya dek, ya udah mas tutup dulu yaa assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumussalam wr.wb”.

Kesedihan Azizah sudah tak bisa dibendung lagi, Azizah bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat tahajjud karena waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Azizah membentangkan sajadah merahnya dan memulai sholat tahajud dengan perasaan yang tak menentu. Sunyinya malam menambah syahdu suasana sedih Azizah, suara tangis memecah keheningan malam beriringan doa yang Azizah panjatkan kepada sang Khalik. Memohon ampunan dan segala keinginan Azizah. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.