Oleh: Hermanto, wartawan senior
Di lereng barat Menoreh, waktu berjalan pelan dan suara burung lebih terdengar dari deru mesin.
Embun lebih sering tiba ketimbang cahaya. Dan kampung itu tak pernah terburu, seperti ingin terus tinggal dalam diam.
Perjalanan dari kota ke kampung ini tak lebih dari satu jam. Tapi begitu roda meninggalkan aspal datar Jogja, waktu mulai mengulur, memanjang, dan membiarkan mata kita menyisir tiap detailnya: sawah hijau yang tenang, kafe-kafe artistik di Nanggulan yang dibangun di bibir tebing, dan di beberapa titik, pemandangan orang tua memanggul rumput, atau mengikat tumpukan pakan ternak di belakang motor tua mereka. Beberapa bahkan masih berjalan kaki, memikul rumput setinggi badannya sendiri, melintasi jalan curam yang sepi.
Inilah Jatimulyo, sebuah kelurahan di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Di sanalah kampung kecil Sibolong berada—tersembunyi di antara lipatan Pegunungan Menoreh. Wilayah ini telah lama menjadi bagian dari zona konservasi perbukitan Menoreh, tempat mata air alami masih mengalir, dan lebih dari 150 jenis burung terbang bebas tanpa sangkar. Jatimulyo bahkan dikenal secara nasional sebagai pelopor desa perlindungan burung liar pertama di Indonesia, dilindungi oleh peraturan desa sejak 2014. Ia bukan hanya kampung, tapi sebuah keputusan kultural.








