Jika kita mencermati diskografi Tulus sejak awal kemunculannya, karya-karya Tulus sarat dengan keistimewaan dalam membingkai tema dengan lirik penuh metafora. Penikmat musik Indonesia tentu belum lupa caranya membingkai masalah perundungan (bullying) dengan cara bertutur cerdas namun ringan dan penuh canda sembari menggelisahkan kesadaran dalam lagu Gajah (2014) yang fenomenal. Sebelum itu, ia dengan sopan mencoba mematahkan stereotipe cinta orang muda kebanyakan yang bucin melalui Jangan Cintai Aku Apa Adanya (2015). Tulus menyisipkan pesan yang kontradiktif dengan realitas kebanyakan kisah bahwa mencintai harus dipenuhi dengan keharusan ‘menuntut sesuatu’; mendorong usaha dan menghidupkan energi melalui skeptisisme yang positif. Lirik lagu lainnya yang patut dipuji adalah Sepatu (2013). Dengan haru ia menarasikan cinta yang tak bisa saling memiliki dengan menggunakan sepasang sepatu sebagai metafora. Kemampuan memilih metafora yang tidak biasa namun memberi energi besar pada lirik inilah yang sulit dicari tandingannya. Kemampuan menempatkan lirik yang demikian dalam melodi yang unik dan indah dengan keriangan yang terpelihara dengan baik, tak dapat disangkal telah melahirkan karya-karya patut menyandang sebutan adiluhung, meskipun ia memilih jalur musik populer sebagai jalannya.
Sebuah Meteor Bernama Tulus










