Lain waktu, tatkala makan nasi godog di Kriyan, Rajendra menanyakan kiprah kemanusiaan tentara saat tsunami Aceh. Belum selesai bicara, Dien Keumala pergi begitu saja meninggalkannya sendirian.
“Kamu ngelemburi skripsiku, dan buat skripsimu selalu kesiangan, kan?” jelasnya tersenyum. Kini matanya teduh dan wajahnya sejuk. Ia cantik. Meskipun tanpa lip tint, eyeliner, dan maskara.
Dien Keumala ingat sewaktu Rajendra kerap menginap di kosnya. Sungguh lelaki itu tekun melemburi skripsinya. Menyingkapi seprai, dan mengompresi panasnya yang tinggi. Menggulungkan lengan kemeja, dan memasangkan hijab yang terlepas dari rambutnya. Kepadanya pula ia tanaki nasi, memunguti remahan roti, dan merebus Indomie kari.
Sebetulnya, ketika Rajendra menyambutnya dengan erat jabat tangan laiknya berpamitan, ia juga teringat tabiat kedatangan dengan riang peluk dan tanda mata. Di deret Pecinan seberang kafe ini, Rajendra pernah memberinya tanda mata dari lawatan papanya ke Lebanon: kain kaftan dan miniatur pohon cedar. Dien Keumala keriangan.
Mendadak memeluk Rajendra dari belakang.
“Meutia bilang, kamu kerja di galeri seni rupa di Jakarta?” tanya Rajendra sambil mengangkat gelas, menyesap kopi, lalu mendaratkannya ke tempat semula. “Kamu ingat Meutia, kan? Adik kelasku, teman Acehmu juga. Karena skrisimu itu aku diwisuda berbarengan dengannya. Aku juga kasihan padanya. Ia gagal nikah. Padahal sudah bertunangan.”









