Segala Luka Kembali Menganga

oleh -167 views

“Kamu ingat, Ndra, rencana pernikahan yang dulu kita bicarakan?” tanyanya mendongakkan kepala seperti menunggu jawaban dengan isyarat. “Kamu bilang akulah yang pantas mendesain sendiri semuanya. Dekorasi, gaun pengantin dan undangan.”

Rajendra mengangguk ringan.

“Kita akan berbahagia di hadapan semua orang, Ndra,” lanjutnya sambil menyibak rambut dan menyunggingkan senyum. “Kamu juga bilang aku akan terlihat cantik dengan gaun dan high heels.”

Tertawalah mereka bersama-sama.

***

Magelang begitu dingin. Angin semilir. Bau aspal yang tertinggal sehabis hujan menguapkan pelbagai ingatan di kepala. Dien Keumala selalu suka sehabis hujan. Meskipun ia lupa, bahwa dingin yang membuat jarinya mengkerut dan gerahamnya terkatup itu, dapat kambuhi asmanya, dan hanya ingat:

Baca Juga  Negara Tidak Runtuh oleh Kritik

“Waktu berteduh di depan Gereja Beth-El sekitar alun-alun, Ndra. Kita melihat Bapak becak mengenakan caping dan mantel plastik. Ia tak menggigil, aku sebaliknya. Reyot bersandar di pundakmu. Aku menatapmu. Kamu merundukkan tengkuk. Bersama gemercik hujan kita berciuman.”

Rajendra tersipu. Kupu-kupu di perutnya menggelepar. Ia cegah sesuatu agar tak terbangun. Namun gagal. Ia silangkan kakinya dan membakar rokoknya.

“Aku kok tiba-tiba kangen rokok Aceh ya,” godanya seraya memutar-mutar rokok dengan jempol, telunjuk, dan jari tengah. “Baunya itu lho ngangeni.”

No More Posts Available.

No more pages to load.