Rajendra tampak resah oleh kedatangan orang tuanya. Sungguh kebetulan yang merentankan. Ia perkenalkan keduanya kepada Dien Keumala. Mereka ramah. Memberi senyum dan yang diberi senyum membalas senyumannya. Bersalaman dan saling menyapa. Sementara itu, Rajendra terpaksa masuk ke dalam memesankan hidangan.
“Logatnya kok beda. Asli mana, Nduk?”
“Saya Aceh, Tante.”
“Walah, Aceh,” sahut Papa Rajendra sumringah. “Om lama di Pidie. Om hapal betul daerah itu.”
“Ngapain, Om di Pidie?”
“Om dinas di sana. Kira-kira, ya, dua puluh delapan tahun yang lalu. Waktu DOM itu lho….”
Dien Keumala tersentak. Betapa ia melemas. Bibirnya kelu, terlalu kaku untuk menggerakkan senyum. Bunga-bunga hatinya berguguran. Dan, segala luka kembali menganga.
“Hampir-hampir Om juga lahir di sana. Eyang Rajendra kan ikut numpas pemberontak Darul Islam.”
2024
Krisnaldo Triguswinri lahir 24 Oktober 1996. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Diponegoro. Bukunya yang telah terbit berjudul ‘Jazz untuk Nada’ (puisi, 2016), ‘Tidak Ada Pagi Revolusi, Sementara Ada Pagi Jatuh Cinta’ (esai, 2021), dan ‘Hari-Hari Berbagi Api: Gerakan Sosial, Wacana Alternatif dan Kritik Kapitalisme’ (esai, 2022).
sumber: detik.com









