Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

oleh -57 views

Dua pasang mata sedang melihat ruang sidang yang sama, tetapi dengan fokus yang berbeda. Publik bertanya: Bagaimana pengadilan menangani sebuah perkara ketika unsur tindak pidananya adalah dugaan pencemaran nama baik, sementara inti perhatian masyarakat justru terletak pada kebenaran fakta perkara ijazah yang mengantar kepada tuduhan tersebut?

Paradoks itulah yang membuat persidangan ini berbeda dari perkara pencemaran nama baik pada umumnya.

Selama hampir dua tahun, polemik ijazah Jokowi telah beredar ke mana-mana. Menyedot banyak energi bangsa. Ia hidup di media sosial, debat televisi, kanal YouTube, ruang diskusi, grup percakapan, hingga warung kopi.

Berbagai lembaga memang telah memberikan penjelasan. Kepolisian telah menyampaikan hasil pemeriksaan laboratoris kriminalistik sebagai bagian dari proses penyelidikan. Universitas Gadjah Mada juga berkali-kali menjelaskan posisinya.

Namun, penjelasan-penjelasan itu belum juga mengakhiri perdebatan. Publik masih menunggu sebuah kepastian yang lahir dari proses pembuktian di depan hakim, bukan sekadar dari perang pernyataan di ruang publik.

Baca Juga  Formapas Malut Desak Kapolda Usut Dugaan Pelanggaran Pembangunan Jetty PT STS di Halmahera Timur

Kini, semua mata beralih ke ruang sidang perkara Tifa — dan mungkin selanjutnya perkara Roy Suryo yang masih menempuh sidang praperadilan. Sebab di sanalah alat bukti, saksi, dan keterangan para pihak akan diperiksa secara terbuka menurut hukum.

No More Posts Available.

No more pages to load.