
Dengan disingkirkannya Masyumi sebagai partai kedua terbesar, kata Ginting, maka tinggal PNI, NU, dan PKI. Dari ketiga partai itulah kaki politik Sukarno dalam wadah Nasakom (Nasional, Agama, Komunis).
Celakanya, ungkap Ginting, PKI yang paling diandalkan Sukarno untuk menjadi sekutu kuatnya dalam menghadapi Angkatan Darat, justru mulai terang-terangan berseberangan dengan RI 1. Itulah era tiga polarisasi kekuatan, yaitu Sukarno-PKI-Angkatan Darat.
Dia melanjutkan, Nasakomisasi terus digulirkan, termasuk upaya untuk memasukkannya dalam organisasi ABRI pada 1964-1965. Begitu juga soal Angkatan kelima di luar AD, AL, AU, Polri. Tentu saja yang paling getol adalah PKI, dan lagi-lagi PNI hanya bisa mengekor. Menurut Ginting, PNI tidak menolak pembentukan angkatan kelima. Kedua partai ini seperti tidak ada lagi bedanya.
Karena itu pula, kata dia, mulai terjadi bentrok antara aktivis PNI dan personel Angkatan Darat di Kalasan, Yogyakarta pada Mei 1965. Agar konflik tidak berkepanjanan, pimpinan PNI Ali Sastroamijoyo, Surahman, dan Ruslan Abdulgani menemui Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani. “Di situ Jenderal Yani mengingatkan agar PNI jangan ikut-ikutan PKI. PNI itu nasionalis bukan komunis,” ujar Yani tegas.





