Selamat Datang Politik Kebhinekaan

oleh -3 Dilihat

Kesadaran dan kedewasaan
Sebagaimana kita tahu, dua pilpres dan satu pilgub (DKI) terakhir telah menyisakan semacam trauma nasional bagi bangsa ini. Perbedaan pilihan dan dukungan terhadap capres atau calon gubernur menjadi pertentangan yang bahkan lebih dari sekadar ideologis. Pertentangan akibat perbedaan atas pilihan dalam pilpres dan pilgub itu berujung pada pertentangan emosional hingga pecahnya persaudaraan. Kenyataan ini benar-benar menjadi trauma hingga banyak pihak mewanti-mewanti dan berharap agar hawa Pilpres 2019 tidak terulang pada Pilpres 2024 mendatang.

Selain kelam dan menyesakkan, kenyataan tersebut juga jauh dari konstruktif bagi kehidupan bangsa kita. Politik pun tidak menjadi ruang atau wahana mencerdaskan kehidupan bangsa melainkan ajang mengadu sesama anak bangsa. Alam kesadaran yang terbangun ketika itu adalah semacam to be or not to be. Seolah jika tak berkuasa maka selesai sudah kehidupan ini. Seolah jika tak berkuasa, akan hancur seluruh cita-cita dan masa depan seseorang atau suatu kelompok.

Baca Juga  Benhur Watubun: Penghargaan Pendidikan Maluku Jangan Berhenti di Seremoni

Alam pikir semacam ini tidak memahami benar tentang kehidupan politik di alam demokrasi. Alam pikir seperti ini dialasi oleh cara berpikir biner dan simplistis. Jika tidak A maka B, atau jika C makan akan D. Padahal, salah satu kelebihan sistem demokrasi adalah adanya ruang koreksi. Adanya ruang ini memberikan berbagai macam kemungkinkan dalam kehidupan bernegara sehingga cara berpikir fatalis semestinya tereliminir. Sebagai contoh kecil, Pak Prabowo yang notabene contender dari Pak Jokowi di pilpres yang lalu malah kemudian menjadi Menteri Pertahanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.