Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis senior dan kolumnis
Dalam prosesi acara “Karnaval Gajah” di Lampung, 27Juni 2026, Jokowi melakukan akrobat politik. Duduk di Kedaton Keagungan Lampung, mengenakan pakaian putih berselempang tulisan “Baginda Pemuka Bangsa”, sambil kakinya menginjak kepala kerbau. Secara harfiah, ini mungkin bagian dari prosesi acara adat di Lampung yang biasa saja. Problemnya, ini bukan murni acara adat, tapi rangkaian acara safari politik untuk mengkampanyekan PSI.
Dalam semiotika politik, setiap tanda selalu ada konteksnya. Jokowi sengaja memilih momen acara adat di Lampung sebagai “kick start”, secara simbolik menginjak kepala kerbau sambil duduk bak raja. Ketika relasi Jokowi dan PDIP sedang dalam konflik terbuka, kepala kerbau adalah sinonim “kepala banteng”. Apakah ini kebetulan belaka? Tentu, sebagaimana berbagai “kebetulan” manuver akrobat politik Jokowi selama sepuluh tahun terakhir.
Roland Barthes menyatakan “dunia adalah sistem tanda (semiotika)”. Manusia hidup dalam lautan tanda-tanda (signs), dari cara berpakaian, gaya bicara, hingga gesture perilaku. Kehidupan modern adalah teater simbol. Dalam buku Mythologies (1957), Barthes memaparkan, masyarakat modern menciptakan “mitos-mitos” baru. Bukan mitos kisah dewa-dewi, tetapi mitos budaya populer.









