Senja di Vienna Woods

oleh -223 views

Pernah suatu hari aku melihat kau berlarian di tepian Danau Neusiedler mengejar kupu-kupu. Kau melepas sepatu hak tinggimu dan menaruhnya di dekat sebuah pohon beech. Kau mengangkat sedikit rok terusanmu dengan tangan kirimu sedangkan tangan kananmu mencoba meraih sang kupu-kupu. Jejak kakimu meninggalkan bekas di rerumputan Vienna Woods. Rambut panjangmu tergerai terurai di udara seperti daun-daun pohon oak yang bersemi pada bulan Juni.

Senja belum datang, tapi kau sudah kelelahan. Kau tak mampu mengejar kupu-kupu tersebut dan beralih memelukku dari belakang yang sedang duduk di tepi sungai.

“Cukup kupu-kupu saja yang terbang jauh, kau jangan,” katamu saat itu.

Aku tidak akan terbang jauh. Aku akan seperti Vienna Woods, tetap diam dan menunggu kau datang.

Seketika aku memikirkan kembali setiap kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Bagaimana aku tahu? Kau pergi dan entah kapan akan kembali. Hingga hari ini aku masih setia menunggumu di Vienna Woods. Bahkan aku mulai melupakan raut wajahmu, rambut hitammu, dan hangatnya genggaman tanganmu.

Baca Juga  Tegas! Ketum Golkar Bahlil Lahadalia Perintahkan Tunda Musda Kota Ambon

Namun di Vienna Woods, entah kenapa semua kenangan dengan mudah muncul kembali. Hanya dengan memandang bunga-bunga yang bersemi di sepanjang Sungai Triesting, seketika semua ingatan tentangmu muncul kembali. Aku merasa masih bisa melihat jejak kakimu yang tertinggal di rerumputan. Namun jejak kaki itu seolah pergi menjauh. Jauh meninggalkan diriku dan Vienna Woods.

No More Posts Available.

No more pages to load.