Senja di Vienna Woods

oleh -233 views

Aku juga masih ingat ketika kita bersenda gurau pada awal musim gugur. Kau tiba-tiba berkata, “Aku ingin sekali menikah di Gereja Leonardi di Vienna Woods suatu hari nanti. Aku membayangkan seseorang akan berjalan, datang menjemputku dari arah Viennese Basin, menemuiku di pintu gereja, memegang tangan kananku, dan mengucap janji di sini.”

Namun jika aku mencermati kembali kata-katamu saat itu, aku sadar kau tidak pernah menyebut namaku. Aku pun tidak pernah bertanya, dengan siapa kau akan menikah. Saat itu aku yakin bahwa dirikulah yang kau bayangkan, dirikulah yang kau rindukan, dirikulah yang akan bersamamu hingga hari tua dan hidup bahagia di Vienna Woods.

Baca Juga  Irine Roba Dorong Peran Kampus Terjemahkan Diplomasi Parlemen Jadi Kebijakan

Terkadang aku memimpikan kau datang kembali padaku dan berkata, “Untuk Vienna Woods dan dirimu, aku kembali.”

Namun aku tahu dan aku selalu meyakinkan diriku lagi bahwa kau tidak akan pernah datang kembali. Kau telah pergi. Jauh meninggalkan Vienna, jauh meninggalkan Austria yang sendu.

***

Teng!

Lonceng di Gereja Leonardi berdentang. Dari kejauhan, aku melihat seorang gadis bergaun putih berdiri di pintu menghadap ke dalam gereja. Ia memegang seikat bunga di tangan kanannya. Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh punggungnya. Gaun putihnya jatuh hingga ke lantai menutupi seluruh kakinya. Ia diam seolah menunggu seseorang. Kekasihnya tentu saja.

No More Posts Available.

No more pages to load.