Di situlah coffee shop menemukan relevansinya.
Ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh layar: kehadiran. Di sana orang dapat mendengar suara secara langsung, melihat ekspresi tanpa perantara, dan merasakan kembali ritme interaksi yang lebih manusiawi.
Maka ledakan coffee shop sesungguhnya tidak sedang bercerita tentang kopi. Ia bercerita tentang manusia modern yang terus mencari ruang untuk bernapas di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Sebab pada akhirnya, Indonesia mungkin tidak sedang mengalami demam kopi. Indonesia sedang mengalami demam mencari tempat untuk menjadi manusia. Dan kopi, dengan segala aromanya yang akrab, hanyalah alasan yang paling mudah untuk memulainya. (**)









