Ada 11 jendela yang harus diberi gorden. Kalau kita ambil saja rata-ratanya, maka satu jendela akan menghabiskan Rp 8,6 juta rupiah! Luar biasa, bukan?
Saya tidak tahu, gorden apa yang harganya Rp 94,7 juta rupiah untuk rumah seukuran rumah dinas DPR. Sekretariat DPR mengatakan bahwa anggota-anggota DPR mengeluh karena dalam rumahnya terlihat dari luar pada malam hari.
Sebagai publik kita memang wajib tahu. Juga, mengapa sampai gorden saja, para anggota DPR ini harus minta ke negara? Mereka sudah dapat tempat tinggal gratis. Masak urusan gorden saja tidak bisa diurus sendiri? Sementara kita tahu bahwa penghasilan anggota-anggota DPR kita tidak kecil. Jauh diatas rata-rata penghasilan orang Indonesia.
Satu lagi yang saya baca di media, sebagian besar rumah dinas ini kosong melompong dan tidak dihuni. Para anggota DPR pernah meminta bahwa rumah jabatan ini diganti dengan tunjangan perumahan saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para anggota DPR lebih suka menyewa apartemen ketimbang tinggal di rumah dinasnya.
Saya tahu, tidak ada yang lucu dari gorden ini. Tidak ada yang lucu. Hanya tragis saja. Tragis karena para pegawai negara (ya anggota DPR itu dipilih untuk menjadi pegawai negara — civil servant! — memerah apa yang bisa mereka perah dari negara yang seharusnya mereka layani. (*)












