Sejak 2024, spesies ini berstatus Defisiensi Data dalam daftar merah IUCN karena minimnya informasi, serta masuk dalam daftar “lost species” oleh inisiatif global Search for Lost Birds.
Momen Penemuan yang Emosional
Direktur Pencarian Burung Hilang ABC, John Mittermeier, mengatakan penampakan pertama terjadi pada hari keenam pendakian di kawasan hutan awan pegunungan.
“Kami melihat dua burung kecil terbang ke pohon terdekat. Saat saya melihat dengan teropong, saya langsung sadar itu nuri dahi biru,” ujarnya.
Meski awalnya gagal memotret, tim akhirnya berhasil mengabadikan gambar dua hari kemudian saat burung tersebut muncul kembali di area perkemahan.
Pada hari terakhir ekspedisi, tim kembali melihat dua individu lain serta berhasil merekam suara burung tersebut.
Ancaman dan Harapan Konservasi
Koordinator Maluku di Burung Indonesia, Benny A. Siregar, menyebut penampakan yang sangat jarang menunjukkan bahwa spesies ini memiliki habitat yang sangat terbatas.
Sementara itu, Koordinator Program Konservasi Kakatua Indonesia, Dwi Agustina, mengingatkan bahwa deforestasi dan aktivitas industri menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa tersebut.
“Wilayah Buru menghadapi tekanan dari aktivitas penebangan dan pertambangan. Ini menjadi ancaman besar bagi burung endemik,” ujarnya.









