Sherly Tjoanda dan Kata-kata yang Belum Sempat Menjadi Pelukan

oleh -908 views

John Paul Lederach mengajarkan bahwa perdamaian adalah proses yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat. Ada tahap-tahap yang harus dilalui: menenangkan, memulihkan, baru kemudian memahami.

Di fase awal pascakonflik, masyarakat belum siap dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan rasional. Mereka masih sibuk merapikan serpihan batin mereka sendiri—mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, sambil perlahan belajar percaya bahwa esok tidak akan lebih buruk dari hari ini.

Dalam fase seperti itu, yang dibutuhkan bukanlah interogasi, melainkan kehadiran.

Kepemimpinan yang Menyentuh

Seorang pemimpin, terlebih di wilayah yang rapuh oleh luka sosial, tidak hanya diukur dari ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran. Ia juga diuji oleh kemampuannya untuk merasakan sebelum berbicara.

Ucapan Sherly Tjoanda mungkin lahir dari niat baik—menghentikan siklus kekerasan yang kerap dipicu oleh rumor dan ketidakpastian. Namun niat baik, ketika tidak dibungkus empati, kerap kehilangan daya jangkaunya. Ia berhenti sebagai pesan, tanpa sempat menjadi penguat.

Baca Juga  Bupati Maluku Tenggara: Taman Doa Stasi Samawi Jadi Ruang Spiritual Perkuat Iman dan Persaudaraan

Padahal, masyarakat yang sedang terluka tidak hanya membutuhkan arah. Mereka membutuhkan seseorang yang berdiri di samping mereka dan berkata, tanpa syarat:
“Saya tahu ini berat. Dan kalian tidak sendiri.”

No More Posts Available.

No more pages to load.