Lebih luas lagi, apa yang terjadi di Halmahera, Kepulauan Gebe, hingga di Kepulauan Obi, adalah kehilangan hutan dalam jumlah besar, rusaknya sungai-sungai, hilangnya kebun-kebun produksi warga, dan juga wilayah tangkap nelayan yang tergerus lalu-lalang kapal-kapal raksasa pengangkut ore nikel. Dengan begitu, orang waras mana yang dapat menepuk tangan merayakan sukacita dari tumbuh-tingginya ekonomi, tapi malah diraih dari kerja-kerja yang menghancurkan ekosistem hingga praktik dehumanisasi. Perayaaan itu hanya dilakukan oleh para pengekstrak.
Kini, penghancuran Pulau Halmahera yang hampir pada sekujur tubuh dilumuri luka akan semakin gawat. Di bawah jargon hilirisasi, rezim ekstraktif ini berencana untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik (EV) di Maba, Halmahera Timur. Rencana ini sama dengan mengundang kenyataan pilu bahwa Halmahera terperosok di babak akhir penaklukan. Tapi barangkali tak hanya di Halmahera, tapi di pulau-pulau kecil lainnya di Maluku Utara yang memiliki kandungan nikel. (*)









