2. Mata Rantai Komandan Hamas
Lahir di Kota Gaza pada tahun 1970, Al-Haddad bergabung dengan Hamas yang baru terbentuk pada tahun 1987. Ia memulai kariernya sebagai prajurit infanteri di Brigade Qassam, sayap militer Hamas, dan dengan cepat naik pangkat hingga menjadi ‘komandan peleton’, ‘komandan batalion’, dan akhirnya menjadi ‘komandan brigade’.
Ia telah menjadi “mata rantai krusial” di antara para komandan Hamas. Hubungan dekatnya dengan Yahya Sinwar, mantan pemimpin Hamas yang dibunuh pada Oktober 2024, memperdalam pengaruhnya di dalam kelompok perlawanan tersebut.
Ia juga memainkan peran penting di unit keamanan internal Hamas, al-Majd, di mana ia membasmi orang-orang yang dicurigai bekerja sama dengan Israel.
“Gaya militernya berbeda dari para pendahulunya. Dia memiliki pengaruh besar dalam kepemimpinan politik,” kata Alhelou, merujuk pada sayap politik kelompok yang mengelola pemerintahan, diplomasi, dan hubungan masyarakat di Gaza, tempat Hamas berkuasa sejak 2007.
Dengan hadiah Israel sebesar USD750.000 untuk kepalanya dan lolos dari setidaknya enam upaya pembunuhan sejak 2008, Al-Haddad adalah salah satu target prioritas tinggi Israel.
3. Dalang Serangan 7 Oktober
Profil Al-Haddad di Hamas semakin meningkat setelah peran utamanya dalam merencanakan dan melaksanakan serangan 7 Oktober yang disebut oleh Palestina sebagai Operasi Banjir Al-Aqsa.









