Meskipun demikian, Hamas tetap menjadi kekuatan perlawanan dominan di Gaza, dengan Al-Haddad memegang hak veto atas negosiasi gencatan senjata.
4. Mahir Berbahasa Ibrani
Putra sulung Al-Haddad, Suhaib, dan cucunya tewas dalam serangan udara pada 17 Januari 2025, disusul dengan tewasnya putra keduanya pada bulan April.
Seorang mantan sandera Israel, yang bertemu Al-Haddad lima kali selama masa penahanannya, menggambarkan pemimpin berbahasa Ibrani itu sebagai sosok yang tenang, bahkan memerintahkan pengembalian sebuah buku yang ditinggalkan seorang sandera.
Namun, setelah kematian putranya, sikap Al-Haddad menjadi lebih dingin dan getir, sesuatu yang diyakini sandera Israel tersebut sebagai cerminan dari beban pribadi yang ditimbulkan perang terhadapnya.
Awwash mengatakan hampir semua pemimpin Hamas telah menghadapi upaya pembunuhan terhadap anggota keluarga mereka selama bertahun-tahun, sebuah fenomena yang baru mendapatkan momentumnya setelah serangan 7 Oktober.
Keyakinan pada tujuan merekalah yang mendorong para pejuang Hamas untuk melawan pendudukan, dan bukan trauma pribadi, tegas Hawwash. Namun, ia menambahkan bahwa kehilangan orang yang dicintai tentu membuat para pejuang “lebih bertekad” untuk membalas agresi Israel.









