Oleh: Malona Trisnawati Aruan, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PP GMKI Mb. 2020-2022, Aktivis Perempuan Tapanuli
Di tengah tekanan ekonomi yang kian menghimpit, ada satu hal yang terasa makin langka di ruang publik: suara kenabian dari gereja. Kritik moral terhadap ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan penderitaan rakyat seperti menghilang—atau sengaja dihilangkan.
Gereja, dalam konteks ini, tentu bukan sekadar bangunan atau institusi formal. Ia adalah representasi dari komunitas iman: para aktivis Kristen, tokoh umat, hingga lembaga-lembaga yang dahulu dikenal lantang menyuarakan kebenaran. Mereka yang dulu berdiri di garis depan ketika ketidakadilan terjadi, kini justru kerap terlihat ragu—bahkan diam.
Padahal, bangsa ini pernah memiliki figur seperti Johannes Leimena. Seorang negarawan yang, meski berada di lingkar kekuasaan dan beberapa kali menjabat sebagai Pejabat Sementara Presiden, tetap menjaga integritas moralnya. Ia tidak kehilangan keberanian untuk mengkritik, bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada kekuasaan yang ia layani sendiri. Leimena menunjukkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak harus berujung pada kompromi nilai.
Pertanyaannya kini: masih adakah sosok dengan keberanian moral seperti itu?








