Sebaliknya, jika dalam proses perencanaan ditemukan kekurangan, ruang evaluasi seharusnya tetap terbuka.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar sumur bor versus bendungan.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan kebijakan pembangunan benar-benar lahir dari kebutuhan lapangan, kajian teknis dan perencanaan yang matang.
Sebab bagi petani Waimital, yang dibutuhkan bukan sekadar proyek baru, melainkan air yang benar-benar mengalir ke sawah dan mampu menjaga produktivitas pertanian.
Publik kini menunggu jawaban Bupati SBB dan Kepala Dinas Pertanian La Radin: mengapa harus membangun 11 sumur bor ketika di lokasi tersebut sudah terdapat bendungan yang disebut masih dapat menjadi sumber pengairan setelah dilakukan penanganan?
Jawaban atas pertanyaan itu penting untuk memastikan anggaran sekitar Rp1,65 miliar benar-benar diarahkan untuk menyelesaikan persoalan petani, bukan sekadar menambah daftar proyek infrastruktur pertanian.
(Josian Kakisina)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com









