Tahu Bulat

oleh -131 views

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Di negeri ini, harga komoditi seperti cabe, naik turun mengikuti musim. Ia meroket sampai ke bulan kalau cabe sedang tidak musim dan terhujam hingga tak berharga ketika panen.

Satu hal yang saya amati di negeri yang segala sesuatunya di-geprek-kan ini adalah minimnya persiapan melihat ke depan. Orang hanya hidup untuk hari ini seperti filosofi tahu bulat: digoreng dadakan.

Tidak saja hidup sehari-hari kita yang digoreng dadakan. Kebijakan-kebijakan penting yang menyangkut hidup orang banyak juga demikian. Tidak ada upaya untuk membikin sesuatu dalam jangka sedikit panjang.

Mau contoh? Nggak usah jauh-jauh. Lihat saja buka tutup PPKM sekarang ini. Ketika kasus menurun, kita leha-leha. Ketika naik, fasilitas kesehatan kolaps, baru kita buru-buru. Kalau perlu pake tentara dan polisi paksa orang untuk memaksa orang menerapkan prokes.

Baca Juga  Rektor Unpatti Pimpin Upacara Peringatan Hardiknas dan Buka PEKSIMIKA 2026

Tidak hanya pemerintahnya. Hidup kita juga kebanyakan ‘digoreng dadakan’ bukan? Ketika kasus meninggi, kita buru-buru minta vaksin. Kita anggap enteng pandemi ini karena kita tidak kena.

Bahkan hingga sekarang kita dapati orang-orang berkampanye bahwa nggak gagah kalau disuntik vaksin. Saya kenal orang yang kebelet mau jadi pejabat publik dimasa depan, selalu tampil gagah di media sosialnya karena tidak divaksin dan tidak pakai masker.