Tapi mungkin sulit mengatakan bahwa orang seperti ini hidupnya digoreng dadakan. Paling tidak dia punya cita-cita entah jadi wakil bupati atau wakil gubernur. Itu pun kalau … ah sudahlah.
Kita ngelantur. Kembali ke soal cabe dan tahu. Karena sifat-sifat ‘digoreng dadakan’ itu, kita jarang bersiap untuk menghadapi masa depan. Tuntutan kita selalu masa kini. Dan masa kini itu adalah sesuatu yang segar. Jadilah kebudayaan yang lain, yakni kebudayaan geprek menggeprek. Apa saja di negeri ini digeprekin, termasuk hak Anda berpendapat.
Kita tidak pernah menghargai makanan diawetkan dalam jangka panjang. Makanan-makanan itu kita anggap makanan paceklik. Simbol kemiskinan dan kemelaratan.
Taruh misalnya singkong. Ia masuk ke Nusantra ini dibawa Portugis pada abad 16. Kemudian menjadi makanan massal. Singkong terkenal cepat busuk. Tetua orang Jawa mengawetkannya dengan menjemur. Jadilah dia gaplek yang dibikin menjadi Gatot dan Tiwul.
Sekarang Gatot dan Tiwul jadi makanan eksotis. Orang miskin sendiri tidak akan menyentuhnya kalau tidak terpaksa. Kelas menengah dan elit Jawa menyantapnya untuk mengenang kemiskinan mereka, sekaligus merayakan kekayaan mereka sekarang ini.
Sebagian besar makanan kita sekarang berkisar antara dua hal: instan atau segar. Kedua-duanya adalah dadakan.




