Tahu Bulat

oleh -132 views

Kita jarang sekali mengawetkan makanan. Mungkin karena kita tidak di daerah tropis yang tidak akan pernah mengalami paceklik. Tidak ada musim dingin panjang. Gagal panen itu kita lihat sebagai kekecualian sehingga kehadirannya bisa diabaikan.

Apalagi sekarang, kita sudah menyerahkan urusan pangan ini kepada pemerintah dan korporasi. Lewat Bulog, pemerintah yang menjadi lumbung kebutuhan pokok. Sementara korporasi memperkenalkan makanan instan — seperti mi goreng yang memasaknya dengan cara direbus! Praktis dan cepat saji.

Beberapa waktu lalu, seorang teman menunjukkan kepada saya sebuah artikel dari Alfred R. Wallace. Kalau Anda belajar geografi di sekolah, Anda mesti tahu soal garis Wallace. Dia ilmuwan Inggris yang namanya dilekatkan dengan Charles Darwin khususnya dalam perdebatan siapa menciptakan teori evolusi.

Baca Juga  Hardiknas 2026, Bupati Halmahera Selatan Soroti Pemerataan Guru dan Kualitas Pendidikan

Ada satu artikel dari Wallace yang terbit pada 1862 di The Journal of the Royal Geographical Society of London yang membahas ekonomi makanan di Kepulauan Timur. Maksudnya di wilayah-wilayah yang sekarang dikenal sebagai Maluku dan perairan Papua bagian barat.

Wallace membahas soal perdagangan di pulau-pulau tersebut. Dia membahas soal hasil laut seperti kulit penyu, sebuah komoditi penting saat itu. Di bagian akhir artikelnya, dia menulis agak panjang tentang sagu.