Namun, dari kajian hampir dua abad lalu ini, kita juga bisa melihat bahwa bagaimana pun juga hidup di negeri ini adalah hidup tahu bulat yang digoreng dadakan. Karena semua serba mudah didapat. Kemudian kita pun membuat sistem yang menyediakan segal-galanya.
Dalam bahasa kaum Libertarian, kita menerima dengan senang hati peran negara sebagai “Inang” yang menyusu dan menyediakan segala sesuatu untuk anak-anaknya. Sialnya, kaum Libertarian yang pendukung pasar bebas harga mati ini sangat gandrung pada negara — yang seharusnya dilawannya itu.
Tahu bulat ini, dari luar terlihat kulitnya sangat merangsang dan menantang. Ia menawarkan kriuk yang luar biasa. Tapi isinya kosong.
Mental ini ada di segala aspek dalam hidup sehari-hari kita. Termasuk dalam memilih pemimpin. Kita terpesona pada kriuknya. Sementara didalamnya kosong! … Cabe, mana cabe … 😛 😛 😛 (*)





