Tante Cantik dan Politik Tubuh Gubernur

oleh -172 Dilihat

Namun, citra memiliki satu kelemahan: ia dapat menutupi kenyataan.

Kekuasaan dapat terlihat cantik di layar, tetapi gagap ketika berhadapan dengan angka. Dapat terlihat dekat dengan rakyat, tetapi jauh ketika rakyat membutuhkan keadilan. Dapat tampak kuat di hadapan kamera, tetapi rapuh ketika harus mengambil keputusan yang tidak populer.

Karena itu, kecantikan politik tidak boleh diukur dari wajah kekuasaan, melainkan dari akibat yang ditinggalkannya.

Apakah kebijakan membuat rakyat lebih sejahtera atau semakin rentan?

Apakah birokrasi menjadi lebih manusiawi atau semakin menekan?

Apakah pembangunan membuka ruang hidup baru atau justru mengorbankan lingkungan?

Apakah anggaran menjadi instrumen keadilan atau sekadar alat untuk mempertahankan kenyamanan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada apakah seorang pemimpin layak disebut “tante cantik”.

Baca Juga  Peringati HKN, Puskesmas Uwen Pantai Dorong Penguatan Layanan Kesehatan di Taniwel Raya

Sebab ketika rakyat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, kecantikan politik kehilangan maknanya.

Jiwa sebagai Penjara Tubuh

Foucault pernah mengatakan, dalam pembacaannya atas mekanisme kekuasaan modern, bahwa tubuh tidak cukup dikendalikan dari luar. Kekuasaan yang paling efektif justru ketika ia berhasil masuk ke dalam kesadaran.

Di situlah ungkapan “jiwa menjadi penjara bagi tubuh” menemukan relevansinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.