Tetapi ada pula yang jauh lebih sinis: jangan-jangan ini bukan sekadar wawancara.
Pernyataan sinis terakhir inilah yang kemudian melahirkan istilah yang paling mengusik: iklan tersembunyi.
Tentu saja, menyebutnya sebagai iklan tersembunyi tanpa bukti adalah tuduhan. Dan tuduhan tidak boleh diperlakukan sebagai fakta. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa Tempo menerima kompensasi dari Jokowi hanya berdasarkan kecurigaan publik.
Tetapi ada sesuatu yang juga tidak boleh diabaikan: kecurigaan itu sendiri adalah fakta sosial.
Sebab media yang dipercaya seharusnya tidak hanya bertanya kepada kekuasaan. Ia juga harus sesekali bertanya kepada diri sendiri: mengapa pembaca yang selama ini mempercayainya tiba-tiba memilih curiga?
Mungkin di situlah cerita sesungguhnya baru dimulai.
Kecurigaan itu tidak lahir dalam ruang hampa.
Jauh sebelum sampul “Ancang-Ancang Jokowi” beredar, Tempo—terutama melalui Bocor Alus Tempo—telah cukup gencar membedah dan mengkritik Jokowi. Kritik itu, terlepas dari setuju atau tidak, ikut membentuk persepsi publik tentang posisi Tempo terhadap kekuasaan Jokowi yang tak berkesudahan.
Karena itu, ketika wartawan yang selama ini dikenal kritis terhadap Jokowi kemudian duduk berhadapan dengannya dalam sebuah wawancara eksklusif, publik tidak membacanya sebagai halaman kosong.









