Maka barangkali pertanyaan terakhir bukanlah apakah Jokowi membeli ruang di Tempo.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah Tempo masih mampu membuat pembacanya percaya bahwa ruang itu tidak pernah dijual?
Di situlah harga sesungguhnya sebuah media diuji—bukan ketika ia mengkritik kekuasaan, tetapi ketika kekuasaan datang mengetuk pintunya. (**)









