Tentang Rindu Yang (Belum) Selesai

oleh -8 Dilihat

“La, gue rindu sama dia lagi. Kemarin gue mimpiin dia, La..” aku bercerita dengan pelan setelah isakanku agak tenang.
“Gue benci sama diri gue, La, sampe kapan gue ingat terus sama dia? Dia udah baik-baik aja, menjalani hidup dengan hahaha hihihi sama seperti sebelum dia kenal sama gue, terus kenapa gue disini masih keinget dia terus? Ga adil buat gue, La…. Gue kangen banget sama dia…” tangisku tumpah lagi. Perkara seorang lelaki yang sudah mencuri hati dan segala rasa didalamnya, aku -yang kukenal kuat- ternyata patah dan hancur sejadi-jadinya.

Setelah berbulan pamit yang Raka persembahkan, aku menutup hati rapat-rapat. Dengan segala rindu yang masih menggebu, aku menyayangi dia bahkan setelah kepergiannya dalam diam. Hingga akhirnya di penghujung tahun yang memberiku banyak pelajaran, aku memberanikan diri menemuinya lagi. Untuk yang terakhir. Menuntaskan rindu dan rasa. Membunuh harap dan ingin yang sebagian saja pun tak bisa kumiliki.

Baca Juga  Anggaran 15 Kegiatan DPRD Haltim Tembus Rp16,19 Miliar, Perjalanan Dinas Jadi Sorotan

“Kamu apa kabar?” Raka membuka percakapan setelah hampir 10 menit kami yang terbuang dalam hening.
“Baik, kamu sehat?” tanyaku. Kutatap matanya, masih sama. Mata yang penuh sayang untukku.
“Sehat, Na..”
“Besok pagi aku mau berangkat ke Bandung, Ka. Aku rasa, kamu seharusnya dengar dari aku, walaupun kita udah ga sedekat dulu lagi..”
“Ke Bandung? Liburan?”
“Stay, Ka. Aku ga bakal balik kesini lagi..”
“Oooh,” jawabnya dengan anggukan. “Hati-hati, Na. maaf, aku ga bisa anterin kamu besok. Senja lagi disini”
“Gapapa, Ka.. kamu sehat sehat yaa, makasih banyak udah jadi temen yang baik banget buat aku selama disini…”

No More Posts Available.

No more pages to load.