“Shhh…”
“Arghh…”
Meringis dan mengerang. Itu yang Lana lakukan. Bagaimana tidak tiba-tiba saja kaki kanannya ditekan secara teratur. Lana baru menyadari, kakinya itu sedang dipijat. Lelaki itu lalu menurunkan kaki Lana, berdiri dari kursi yang ia duduki. Lana yang mengerti menggerakkan sedikit demi sedikit kaki kanannya. Menginjak lantai. Ia terperangah tak percaya. Berjingkrak-jingkrak. Wahhh, sembuh.
Lelaki itu menggeleng, dalam hati tersenyum geli. Tapi ia tetap mempertahankan wajah datarnya. Menatap Lana. Yang ditatap menyadari lalu mendongak mengucap kata ‘terima kasih’ tanpa suara. Lelaki itu mengangguk paham.
Mereka terdiam, membuat keheningan menyelimuti atmosfer. Lana akhirnya melangkah, ia memang penyuka kesunyian tapi ia tak suka kecanggungan. Lelaki itu mengikuti dari belakang, tanpa berucap apapun. Sampai Lana tiba di depan kelasnya. 12 IPS 3. Lana menyempatkan menoleh ke belakang, lelaki itu kemana?
Lana memilih acuh, mengangkat bahu nasuk ke dalam kelas. Meminta maaf karena terlambat sebab ia baru mengobati luka di UKS yang dibalas anggukan kepala oleh guru sejarah.
Dimatamu aku tak bermakna
Tak menarik arti apa-apa
Kau hanya inginkanku di saat kau perlu
Tak pernah berubah
Serpihan hati ini
Ku peluk erat
Akan ku bawa
Sampai ku mati
Memendam rasa ini sendirian
Ku tak tahu mengapa aku tak mampu
Melupakanmu…




