Tentang Sayap yang Patah

oleh -214 views

Yah, itulah kata sambutan jika Lana berjalan di koridor sekolah. Kurang kerjaan. Batinnya berucap. Lana tetap berjalan santai dengan wajah khasnya, wajah pucat.

Ia meringis lirih saat dahinya terbentur dinding koridor dan mengeluarkan darah. Lana menegakkan badan, menoleh ke belakang. Ia mendengus, melihat geng RELD gwng paling famous di sekolahnya. Emyta yang bisa dibilang sang ketua, maju dan tersenyum miring. Membalikkan tubuh Lana secara paksa dan mendorongnya sampai terbentur dengan dinding koridor. Kali ini punggung. Lana nendesis, punggungku untung ga remuk.

“Halo Lana. Elo kenal gue?”
Emyta berucap lembut yang membuat Lana bergidik. Merasa jijik. “Kok diem? Lo bisu?”
Lana masih betah terdiam, tak menyahut. Hal itu membuat Emyta geram sendiri. Tanpa aba-aba, dirinya mencengkram kuat dagu Lana. Kuku tajamnya menggores wajah gadis itu.

Baca Juga  Ojol Ditemukan Meninggal di Kamar Kos di Ternate

“Elo beneran bisu? Jawab!”
Salah satu teman – lebih tepatnya anak buah – Emyta membentaknya. Namanya Licia. Emyta menggeleng, menatap Licia dengan tatapan ‘gue aja’. Yang ditatap memutar bola mata tapi tetap menurut.

Lana masih terdiam, belum mengucap sepatah katapun. Ia hanya meringis perih saat Emyta membuat badannya terbanting ke bawah. Emyta mendongakkan kepala Lana – agar menatapnya -, ia berlutut lalu berucap penuh penekanan. “Gak guna elo!!”