Tentang Sayap yang Patah

oleh -14 Dilihat

Lana mengerjab, mengusap kasar pipinya. Menghapus jejak air mata disana. Lana beranjak, menyudahi permainan pianonya. Meninggalkan ruang musik yang sunyi. Bergegas pulang ke rumah sebelum menangis lagi. Namun Lana tak tahu, jika ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Seseorang itu tersenyum. Bergumam, “Aylana…”
Seseorang itu, lelaki tadi pagi yang menolongnya.

Disinilah Lana berada. Lapangan sekolah. Dengan langit cerah dan awan putih. Lana menggigit bibir, gugup. Ia bahkan mengeluarkan keringat. Padahal terik mentari tak terlalu panas. Semua ini gara-gara Emyta, ketua geng yang membullynya. Cewek dengan wajah kebule-bulean itu menantang Lana untuk menyanyi. Penuh pemaksaan. Alasannya sih untuk membuktikan bahwa Lana normal, tidak bisu maksudnya.
Dan gilanya lagi, Lana ditantang menyanyi di tengah lapangan. Kebetulan semua siswa/i hari ini free class.

Baca Juga  Prabowo Sebut “Nyontek yang Baik” Saat Bicara Soal SBY, Pilihan Kata Ini Punya Konotasi Negatif

“Gimana? Elo siap?”
Lana hanya mengangguk.
“Ingat kalo lo ga bisa nyanyi lo tau akibatnya.”
Emyta tersenyum licik, Lana mendengus sebal.
Aku ga bakal disini kalo aku ga nyanyi.

Lana memetik senar gitar, mulai memasuki intro lagu. Lagu yang mengisahkan tentang dirinya.

Rasanya sunyi
Tak ada suara dalam diri
Rasanya sepi
Tak ada nada dalam melodi
Bagi aku yang coba pahami
Walau ada ragu di hati