Tentang Sayap yang Patah

oleh -213 views

“Argghh…”
Lana mengerang tertahan, ia mencoba menggerakkan kaki kanannya pelan namun yang ada ia malah kesakitan. Lana menatap punggung Emyta dan antek-anteknya benci. Dan kembali menatap iba kondisi kakinya yang tadi diinjak keras dengan sengaja oleh geng unfaedah itu.

Lana mengernyit, ia mendongak. Menatap wajah seseorang, pemilik tangan yang terulur di depannya. Seorang lelaki berdiri di hadapannya, dengan tangan lain yang dimasukkan ke saku celana. Cool. Ganteng. Dua kata itulah yang terlintas di pikiran Lana. Lana buru-buru menggeleng menyadari.

Sadar bahwa si cewek kulit pucat tidak akan menerima sodoran tangannya, lelaki itu memegang tangan Lana, menggenggam dan menariknya. Dalam tanda kurung, ia membantu Lana berdiri. Lana sempat oleng, namun masih bisa mempertahankan kedudukannya. Tanpa berbicara, ia kembali menarik tangan Lana. Meninggalkan koridor sekolah yang telah sepi. Yah, 45 menit yang lalu bel masuk kelas berbunyi.

Baca Juga  Pelarian Buron Curas di Halmahera Tengah Berakhir di SBB

Lelaki berjaket biru dongker itu membuka pintu UKS. Mendudukkan Lana di tepi kasur. Ia lalu mengambil kotak P3K, mengobati luka di dahi si cewek kulit pucat. Lana meringis sesaat. Ia melirik lelaki yang telah selesai mengobati lukanya dan kini sibuk meluruskan kedua kaki Lana. Entah kenapa Lana menurut, tak melakukan perlawanan.