Tentang Sayap yang Patah

oleh -14 Dilihat

Kadang ingin ku tinggalkan semua
Pedih hati menahan dusta
Di atas pedih ini aku sendiri
Selalu sendiri….

Dimatamu
Aku tak bermakna…

( Utopia – Serpihan Hati )

Lana menekan tuts-tuts piano dengan piawai. Memainkan lagu favoritnya. Ia tersenyum kecut, mengingat tentang sayapnya yang telah patah. Yang membuat ia seperti ini. Kisah dulu. Kisah masa lalunya.

Dulu, dulu sekali Lana merupakan seseorang yang pandai bergaul walau agak dingin dan pendiam. Ia memiliki keluarga yang harmonis. Dan sahabat setia. Namun kebahagiannya tak bertahan lama. Keluarganya yang berkecimpung di dunia politik dituduh menganut ‘keabadian’, aliran sesat yang merajarela.

Sahabatnya menjauhinya, takut terkena karma. Sedang orangtuanya menjadi korban kekejaman lawan politik sang papa. Dibunuh. Dan raganya tak diketemukan. Hilang entah kemana. Lana histeris, ia merasa semua ini tak adil baginya. Sayapnya yang indah dan mencolok hilang seketika. Patah sudah.

Baca Juga  Warner Kecam Perang Trump terhadap Iran, Biaya Tembus USD100 Miliar dan Selat Hormuz Terancam Dibatasi

Sekarang Lana tahu, sahabatnya itu hanya singgah. Tak menetap. Begitu juga dengan orang lain. Hanya mendekat saat butuh. Akhirnya Lana mengalah pada takdir. Ia menerima. Kemudian pindah sekolah, ke sekolah kini. Tinggal seatap dengan bibi dan pamannya. Setidaknya ia masih memiliki keluarga, tak hidup sebatang kara. Dan Lana yang memang pendiam dari lahir, makin pendiam saja. Ia kuga menambah sikap anehnya. Misterius. Meski aku ini bukanlah seekor burung, namun aku tahu bagaimana rasanya jika sayap patah.