Teologi Pembebasan, Keadilan Ekologis, dan Luka Bumi di Aceh–Sumatra

oleh -35 Dilihat
Ansori

Rasulullah memberikan teladan yang sangat konkret dalam hubungan manusia dengan alam. Beliau melarang penebangan pohon yang tidak perlu bahkan di tengah perang. Beliau menetapkan hima—kawasan lindung yang tidak boleh dieksploitasi sembarangan. Dan beliau mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain (khairunnas anfa’uhum linnas). Dalam konteks hari ini, manfaat itu bukan sekadar sedekah atau bantuan kemanusiaan pasca-bencana, tetapi keberanian untuk melawan struktur yang merusak alam dan menindas kelompok rentan.

Karena itu, melihat Aceh dan Sumatra hari ini, teologi pembebasan memaksa kita bertanya ulang: kebijakan ekologis seperti apa yang kita bangun? Mengapa izin konsesi begitu mudah keluar, sementara kajian lingkungan tidak pernah menjadi faktor utama Mengapa tata ruang sering dijadikan alat negosiasi politik, bukan alat melindungi kehidupan? Mengapa keuntungan ekonomi lebih kuat daripada keselamatan rakyat? Jawabannya tidak mudah, tetapi langkahnya jelas.

Baca Juga  Honda City Facelift Resmi Meluncur di Vietnam, Kini Hanya Tersedia dalam Dua Varian

Pertama, pemulihan ekologis harus menjadi agenda utama, bukan sekadar reboisasi simbolik. Kawasan hulu yang rusak harus direstorasi dengan serius melalui pendekatan ilmiah dan partisipasi masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.