Dari ruang-ruang akademik University of Chicago lahir formulasi teoritik tentang pasar bebas, deregulasi, dan supremasi modal yang kemudian memengaruhi kebijakan ekonomi dunia selama beberapa dekade.
Sementara Prabowonomics masih belum selesai menjelaskan dirinya sendiri. Alih-alih mengurai fondasi teoritik yang kokoh tentang apa sesungguhnya Prabowonomics, Fahri Hamzah justru tampak lebih sibuk membangun musuh simbolik bernama neoliberalisme Barat.
Pembelaannya terdengar lebih sebagai loyalitas politik terhadap kekuasaan ketimbang elaborasi intelektual yang benar-benar utuh. Padahal problem Indonesia tidak sesederhana memilih antara pasar bebas atau negara kuat.
Pertanyaan sesungguhnya yang lebih mendasar, negara kuat itu untuk siapa? Sebab negara yang diperbesar tanpa pengawasan yang sehat dapat berubah menjadi alat konsolidasi elite.
Nasionalisme ekonomi tanpa keberanian membatasi oligarki hanya akan melahirkan kapitalisme kroni dengan wajah patriotik. Dan mungkin itulah ironi terbesar dalam seluruh perdebatan ini.
Indonesia tampaknya memang sedang mencoba menulis kitab ekonominya sendiri—dan itu sama dengan mencari jalan—yang tidak otomatis menjadi mazhab, meski nama telah disematkan.









