Tiga Puisi Firman Wally

oleh -6 views

DI LAUT YANG SEBIRU DADA IBU

Di laut yang tak henti-hentinya
mengalirkan cinta melintasi
karang-karang juga tanjung-tanjung
lalu mengepung pada
perahu masa lalu
di sana ada palayaran yang tak lekang
ada peristirahatan yang di mana
rindu dalam kepala selalu jadi musafir
yang mencari arah menuju tualang
lupa jalan pulang

katanya di laut
yang masih sebiru dada ibu
cinta terus mengembara
tak kenal angin sakal
juga gemuruh amuk ombak
barangkali yang ditakuti
hanyalah rindu yang datang secara tiba-tiba
tanpa mengenal musim jumpa
timur, barat, selatan, hingga utara

Tahoku, 07 Januari 2022

======

MASIH TENTANG LAUTKU

masih tentang lautku
yang dibuat asin oleh kerinduan
di masa lalu
saat ayah membawaku melaut
lalu ibu selalu setia menanti dengan doa-doa
seindah kata hati yang dimuntahkan
dari bibir para pujangga

di laut
aku diayun oleh gelombang
perahu melenggang
ayah mengajari arti kesetiaan
dalam kesabaran

Kebun Cengkeh, 07 Januari 2022

=========

DI PAGI ITU

embun belum juah pecah
di daun keladi
dingin di tubuh masih membungkus
aku ada di antara kayu-kayu bersorok
sebelum dilalap api menjelang makan siang

sementara ibu dan ayah
bertukar cerita
tentang makanan apa
yang harus meramaikan dulang
di waktu makan siang

lautan masih menyimpan gelombang
di hutan tanah yang hitam
tak menghasilkan hijau
mungkin hanya doa yang bisa berbagi warna
untuk air mata dan keringat yang terus pecah

Pagi itu di tungku ibu
rindu menjelma abu
di perahu ayah
peluh jatuh, lalu membeku dalam bisu

Seith, SMAN 27 MALTENG, 08 Januari 2022

======

No More Posts Available.

No more pages to load.